Sabtu, 20 April 2013

KIMIA FARMASI

LARUTAN

STANDART BAKU PEMBANDING, LARUTAN BAKU, DAN LARUTAN PEREAKSI


A.      STANDART BAKU PEMBANDING

Baku pembanding (reference material) adalah suatu bahan dengan kemurnian tertentu, yang digunakan sebagai pembanding untuk mendapatkan kadar suatu analit sampel.

Baku pembanding berdasarkan pembuatnya:

a. Baku pembanding yang dibuat sebagai penyerta monografi pada Farmakope, misalnya USP, FI, dll. Baku pembanding ini mempunyai kemurnian tinggi, tanpa matriks tertentu, dan dalam keadaan tunggal.

b. Working standard atau baku kerja merupakan baku pembanding yang ditetapkan berdasarkan baku pembanding utama. Contoh baku pembanding Indonesia ditetapkan berdasarkan baku pembanding Eropa.

c. Baku pembanding dengan komposisi matriks tertentu: misalnya CRM (certified Reference Material atau SRM (standard Reference Material), bahan ini dibuat oleh badan yang diberi tugas khusus yaitu NIST. Baku pembanding ini dibuat dengan matriks seperti keadaan sampel pada umumnya, misalnya kecap yang mengandung natrium benzoat 1% dan kalium sorbat 1%.

Manfaat baku pembanding ini adalah untuk menguji akurasi (kecermatan) metode. Metode hasil pengembangan dicobakan pada baku ini, hasil yang diperoleh dikurangai hasil yang tertera disertifikat merupakan ukuran bias metode.

 

B.      LARUTAN BAKU (LARUTAN STANDART)

Larutan baku/ larutan standar adalah larutan suatu zat terlarut yang telah diketahui konsentrasinya.

Manfaat Larutan baku sebagai titran sehingga ditempatkan buret, yang sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku.

Larutan baku ada 2 macam yaitu:

1.      Larutan baku primer

Larutan yang mengandung zat padat murni yang konsentrasi larutannya diketahui secara tepat melalui metode gravimetri (perhitungan massa), dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain yang belum diketahui. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti dari zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu.

Contoh: K2Cr2O7, As2O3, NaCl, asam oksalat, asam benzoat.

 

Syarat-syarat larutan baku primer :

·         Zat harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120 derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan murni. (Syarat ini biasanya tak dapat dipenuhi oleh zat- zat terhidrasi karena sukar untuk menghilangkan air-permukaan dengan lengkap tanpa menimbulkan pernguraian parsial.)

·         Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara; kondisi ini menunjukkan bahwa zat tak boleh higroskopik, tak pula dioksidasi oleh udara atau dipengaruhi karbondioksida.

·         Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji- uji kualitatif dan kepekaan tertentu.

·         Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekuivalen yang besar.

·         Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.

·         Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan langsung.

 

2.      Larutan baku sekunder

Larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena berasal dari zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini ditentukan dengan pembakuan menggunakan larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KmnO4, Fe(SO4)2

 

Syarat-syarat larutan baku sekunder :

·         Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer

·         Mempunyai berat ekivalen yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan

·         Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.

 

C.      LARUTAN PEREAKSI

Larutan Pereaksi adalah suatu larutan yang banyak digunakan untuk uji percobaan kualitatif dimana dalam larutan tersebut belum diketahui konsentrasinya.

Contoh Pereaksi Dan Larutan:

1.       Larutan Amilum 1 %
    Suspensikan 1,0 gram amilum dalam 5 ml air dan tuangkan suspensi ke dalam 95 ml aquades yang baru berhenti mendidih, lalu diaduk. biarkan mendingin ketika larutan menjadi jernih.

2.       Larutan Iodium 0,01 M
    Larutkan 1,26 gram iod (I2) dan 2-2,5 g kalium iodida dalam air dan encerkan sampai 1 liter.

3.       Larutan Benedict
    Larutkan 173 gram kristal natrium sitrat dan 100 g natrium karbonat anhidrat di dalam kira-kira 800 ml air. aduklah. lalu saring. kemudian, ke dalamnya tambahkan 17,3 g tembaga sulfat yang telah dilarutkan dalam 100 ml air. buat volum total 1 liter dengan penambahan air.

 

D.     LARUTAN BUFFER (LARUTAN PENYANGGA)

Larutan penyangga (buffer) adalah larutan yang dapat menjaga (mempertahankan) pHnya dari penambahan asam, basa, maupun pengenceran oleh air. pH larutan buffer tidak berubah (konstan) setelah penambahan sejumlah asam, basa, maupun air. Larutan buffer mampu menetralkan penambahan asam maupun basa dari luar.

 

SUMBER:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar